Pages

topbella

Senin, 13 Januari 2014

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh, perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi;in tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau. Perlu di ketahui pula bahwa menurut pakar sejarah, yang pertama kali merayakan acara Maulid Nabi adalah Dinasti Ubaidiyyun atau kita sering mendengarnya dengan Dinasti  Fatimiyyun (silsilah keturunannya di sandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan: “Para Penguasa Dinasti Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Tholib, Mailid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah al Zahra, Maulid Penguasa yang sedang bekuasa saat itu, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Sya’ban, peayaan malam penutup Ramadhan, perayaan Idul Fitri, perayaan Idul Adha, perayaan Idul Ghodir”
Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negri Mesir dalam kitab nya Ahsanul Kalam (hal 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Tholib, Mailid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah al Zahra, Maulid Penguasa yang sedang bekuasa saat itu adalah Al Mu’izh Lidinillah (keturunan Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
Begitu pula Asy Syaikh Ali Mahfudz dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama adalah Dinasti Ubaidiyyun (Fatimiyyun). Di nukil dari Al Maulid hal 20.
Siapakah Fatimiyyun Sebenarnya,..??
Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian , banyak ulama menyatakan kesesatan mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka.
Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan Kasyful Asor wa Hatkul Astar (Menyikap rahasia dan mengoyak tirai). Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Radidhoh (Syi’ah), dan menyembunyikan kekufuran seamta.”
Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan; “Tidak di ragukan lagi, jika kita melihat sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja mereka adalah orang-orang yang dzolim, sering menerjang perkara yang Haram,jauh dari melakukan perakara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah, menelisihi Al Kitab dan As Sunah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah, perlu di ketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Abbas lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih ilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun”
Beliau rahimatullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasiq (berbuat maksiat) dan kufur” (Majmu’ Fatawa, 35/127). Bani Fatimiyyun atau Ubaidiyyun menyatakan bahwa mereka juga memiliki nasab sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tiada satu pun ulama yang menyatakan demikian.
Ahmad bin Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah di ketahui bersama dan tidak bisa di ragukan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketaqwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali, Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. ” (QS Al-Isra’: 36), begitu juga Allah ta’ala befirman, “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS Az Zukhruf: 86). Allah ta’ala juga berfirman,”Dan kami hanya menyaksikan apa yang kamu ketahui.” Perlu diketahui bahwa tiada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah ketuunan mereka sampai kepada Fatimah.” Begitu pula Ibnu khalillkan megatakan, “para Ulama peneliti nasab mengingakri klaim mereka dalam nasab (yang katanya sampai pada Fatimah).” (Wafayatul A’yan, 3/117-118).
Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang di lakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan hari raya orang Majusi dan Nasrani yaitu Nauuz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khomisul Adas (perayaan 3 hari sebelum paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari islam. Bahkan perayaan-perayaan yng di adakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti Madzab mereka. Jika kita menengok akidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Bathiniyyah yang sesat. (lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146/158)
Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai bani Ubaidiyyun, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nasrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim Ali sebagai Tuhan (yang di sembah) atau ada sebagian mereka mengklaim Ali memiliki kenabian. Sungguh bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nasrani.”
Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan  panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula bu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Bathiniyah). Inilah sejarah kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Akhirnya kita dapat menarik kesimpulan, bahwa:
1.   Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita temukan pada tiga generasi (para Sahabat, Tabi’in dan Tabi'ut tabi'in) yang merayakannya, bahkan pula para Imam Madzab.
2.   Munculnya maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun, dan Daulah tersebut di hancurkan oleh sultan Shalahuddin Al Ayubi.
3.   Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antaranya mereka mengakui Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan jauh dari ketaatan pda Allah dan Rasul-Nya.
4.   Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun, yang mana sebagai pencetus pertama Maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari islam, senng berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, dan telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kamu maka dia termasuk bagian dari kamu tersebut.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

0 komentar:

Posting Komentar

About Me